PENGALAMAN – PENGALAMAN MENGGETARKAN IBADAH HAJI

Semoga tulisan ini memberi spirit ruhiah kepada kita yang ingin berhaji dan juga untuk umat muslim secara keseluruhan. Karena kisah-kisah ini dapat memberikan pelajaran berharga tentang keimanan, kesabaran, dan ketauhidan kita kepada Allah. Selamat menyelami lautan spiritual ibadah haji.

Haji dan Air mata Bahagia

Seorang ibu, bernama Rosiko, pensiunan pegawai PT Pos Indonesia, bergetar hatinya ketika dia merasa dibiarkan untuk mengurus sendiri proses penyetoran BPIH-nya. Suaminya justru melepasnya sendirian dan mengatakan bahwa proses haji mandiri harus dimulai sejak membayar BPIH. Asal tahu saja, sang suami memang tidak pergi haji bersama ibu ini, dan semoga Allah segera membukakan kesempatan untuknya. Amin.

Dengan menggunakan mobil angkutan kota, Ibu Rosika ini pergi menuju bank untuk melakukan transaksi pembayaran. Namun bank yang didatangi Ibu Rosika ternyata tidak menerima setoran BPIH, dan dia disarankan untuk membayar di kantor cabang bank tersebut. Sesampainya dikantos cabang bank yang dimaksud, Ibu Rosika diminta untuk terlebih dahulu mendatangi Depag. Luar biasa, padahal biasanya bank berebut menawarkan diri untuk mengurus kepentingan jamaah sebagai sebuah bentuk pelayanan kepada nasabah. Bukankah bank mendapatkan dana tak sedikit dari kegiatan haji?

Ketika akhirnya proses pembayaran dan pendaftaran haji selesai, Ibu Rosika pun terpesona dengan cara Allah memperlakukannya. Apapun kejadiannya, Ibu Rosika merasa Allah telah memulai proses pengujian kesabaran kepadanya: petugas bank yang tidak ramah, disuruh pergi kesana kemari, sembari merasa cemas karena membawa uang tunai puluhan juta rupiah dalam angkutan kota!

Dengan bercucur air mata, pengalamannya tersebut dituturkan kepada saya di pelataran Masjidil  Haram, usia shalat subuh, menunggu waktu dhuha. Hingga tulisan ini dibuat, tujuh tahun telah lewat dari dari perjalanan haji bersama KBIH Salman ITB dan KBIH Al-Amanah PT Pos Indonesia. Sungguh, air mata kami mudah menetes jika berjumpa dan mengenang setiap langkah dan pengalaman haji.

Ada lagi kisah mengharukan lainnya.seorang ibu,Dedeh Saodah, bergetar hatinya ketika anak sulungnya, dengan ikhlas memberikan  sejumlah uang untuk biaya perjalanan ibadah haji. Ibu yang membesarkan tiga anaknya sendirian, sejak suaminya wafat meninggalkan mereka, bertanya, “Nak, bukankah kamu belum punya mobil? Kamu juga masih tinggal di rumah kontrakan? Bagaimana pula dengan istrimu, apa dia ridha kamu berikan uang ini pada ibu?”

Anak yang shaleh itu menjawab, “Bu, rumah dan mobil insya Allah akan dapat dibeli. Sekarang ibu sehat dan Aa Ridha uang ini untuk  biaya ibu menunaikan haji ke Makkah. Istri Aa sangat setuju justru kalau ibu berangkat haji sekarang, mumpung ibu sehat dan Allah memberikan rezekinya melalui ikhtiar Aa.”

Allahu Akbar, bagaimana jika kita yang merasakannya? Diberangkatkan haji oleh anak! Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar!

Ibu Dedeh segera mengenang kembali bagaimana rasanya ketika sang suami, Ustad Yunus Anis, wafat dengan meninggalkan 3 orang anak yang sedang lucu-lucunya. Irfan si sulung berusia sekitar 7 tahun, imran dan Duis-nama panggilan si bungsu, wanita satu-satunya.

Pada saat itu, banyak orang yang menyarankan Ibu Dedeh untuk menikah lagi. Namun dengan bijak, Ibu Dedeh menjawab, “Anak-anak sudah kehilangan ayahnya. Saya tidak mau mereka juga kehilangan ibunya!”

Karena itu, Ibu Dedeh membesarkan tiga permata hatinya sebagai single parent, dia menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi anak-anaknya. Berbagai profesi digelutinya. Pekerjaan semula sebagai perawat ditinggalkannya, lalu kemudian Bu Dedeh menerima pekerjaan menjahit agar dapat dikerjakan di rumah sambil menjaga dan mejaga anak-anaknya. Belakangan, dengan dukungan dan bimbingan keluarga, dia menjadi seorang guru di salah satu pesantren di Bandung, juga menjadi salah seorang pengelola majalah islam, dan mengisi pengajian di berbagai majlis taklim.

Irfan dan kedua adiknya dibesarkan dengan penuh cinta Ibunda dan keluarga besarnya. Kakek Irfan adalah seorang ulama, pemimpin Ormas Islam selama puluhan tahun, yakni Ustad Abdurrahman, akan tetapi sang kakek merelakan cucu kesayangannya untuk bersekolah di sekolah umum dan kemudian menempuh kuliahnya di ITB.

Sewaktu menjalani semester kedua di ITB, Irfan menolak pemberian uang dari ibunya. “Berikan saja untuk adik-adik, Bu. Saya sudah dapat beasiswa dan juga sudah punya penghasilan dari memberikan les privat,” katanya pada ibunya yang tak putus bersyukur.

Setelah lulus kuliah dan bekerja di indosat, dia menikah dengan teman sesama aktivis Masjid Salman ITB, dan dikaruniai anak. Kecintaan Irfan pada ibunya diwujudkan dengan sangat manis: Membiayai haji.

Allah Yang Maha Penyayang rupanya sangat menyayangi Irfan. Di usia 30-an Irfan terkena kanker lenjar getah bening. Perawatan terbaik diberikan hingga kemudian dia dirawat selama beberapa bulan di singapur. Namun, Allah lebih memilih Irfan untuk kembali kepada-Nya. Irfan meninggal dalam pelukan ibunya. Berbahagialah, wahai anak shaleh, yang dengan ikhlas membiayai ibumu pergi haji ke Baitullah. Semoga Allah pun memberikan tempat yang membahagiakanmu di alam barzakh, seperti Allah memuliakan Isma’il karena ketaatannya kepada Allah dan ketaatannya kepada Ibrahim a.s., dan juga kelak menempatkanmu di dalam surga yang istimewa. Amin.

Tak terhitung banyaknya anak-anak seperti Irfan yang membahagiakan orang tuanya dengan cara memberangkatkan haji. Seorang anak yang dikenal nakal saat kecil hingga remaja, memberikan kejutan indah ketika ayahnya pensiun: memberangkatkan haji berdua, ayah dan ibunya, melalui program haji khusus.

“Aa tahu, Ibu dan Bapak ingin berhaji sejak lama sekarang Aa punya uang dan sudah Aa bayarkan , Ibu dan Bapak tinggal Manasik dan berangkat ke Tanah Suci, “katanya disambut isak tangis ayah dan ibunya.

Seorang anak perempuan, ditanya oleh rekanan bisnisnya, “Mau ganti mobil, Bu?”

“Ah tidak juga, mobil yang ada masih jalan dengan baik,” jawabnya.

“Terus buat apa keuntungan yang sekarang?” tanya temannya lagi.

“Keuntungan yang ini untuk membiayai ibu saya pergi haji,” katanya mantap.(berhaji)

INFO LEBIH LANJUT PADA:

PUSAT INFORMASI

Rizki Wahyu
HP: +6283804791713
BB pin:25AA5CB3
Email: rizki.wahyu83@gmail.com
Web: http://www.gemashafamarwa.wordpress.com

KABAH PEMERSATU UMAT ISLAM

KABAH
PEMERSATU UMAT ISLAM

 “Sesungguhnya Allah Swt. telah menjanjikan kepada Rumah ini, bahwa setiap tahunnya ia akan dikunjungi oleh (paling sedikit) enam ratus ribu pengunjung. Jika jumlah mereka kurang dari itu, maka Allah Swt. mencukupkan bilangan itu dengan sejumlah malaikat. Dan sesungguhnya Ka’bah akan ditampilkan di padang Mahsyar bagaikan pengantin wanita yang dikelilingi oleh orang banyak. Maka setiap orang yang pernah mengunjunginya (dengan melaksanakan haji) akan bergantung pada kain penutup (kiswah)-nya dan berjalan di sekitarnya. Yang demikian itu sampai ia memasuki surga dan merekapun memasukinya bersamanya.”

– Al-Ghazali. Rahasia Haji dan Umrah. (Bandung: Karisma, 1997). hlm.20 –

Kabah adalah lambang kiblat manusia di seluruh dunia yang disebut juga Baitullah (Rumah Allah). Kiblat berarti “arah” yang akan kita sembah. Yang kita sembah adalah Allah Swt, berarti kabah sebagai kiblat adalah lambang keberadaan Allah Swt di dunia ini.

Makna Bentuk Kabah

Kabah yang berarti kubus (bersisi enam) menunjukkan bahwa kabah menghadap ke semua arah. Oleh karena itu amatlah tepat Allah melambangkan kiblatnya dengan kubus yang semua sisinya dapat dipergunakan untuk menghadap sesuai dengan sifat Allah, dan bukan dengan bentuk lain baik itu lingkaran, segitiga dan sebagainya, wallahu a’lam.

Kabah sebagai Pemersatu Umat Islam

Kabah setiap detiknya tidak pernah kosong dikelilingi oleh umat islam yang melakukan thawaf, apalagi di musim haji. Kegiatan thawaf atau mengelilingi kabah tersebut berlangsung sepanjang hari, kecuali tentunya ketika umat Islam mengerjakan shalat, maka pada saat itu pula mereka yang melaksanakan thawaf berhenti sejenak untuk mendirikan shalat berjamaah.

Pada saat jamaah mengunjungi Masjidil Haram, pada saat itu pula mereka akan berthawaf, mengelilingi kabah 7 kali sambil mengumandangkan doa-doa yang seragam dan sudah dibakukan. Setelah selesai mengelilingi kabah (berthawaf) tersebut, banyak jamaah yang melaksanakan shalat sunat, baik di daerah Multazam (antara lubang tempat melihat atau mencium hajar aswad) di antara makam Ibrahim as. dan kabah, atau di hijir Ismail.(berhaji)

INFO LEBIH LANJUT PADA:

PUSAT INFORMASI

Rizki Wahyu
HP: +6283804791713
BB pin:25AA5CB3
Email: rizki.wahyu83@gmail.com
Web: http://www.gemashafamarwa.wordpress.com

ANGGITO: HAJI ITU MADRASAH TERBAIK

Oleh: Yeyen Rostiyani

GEMASHAFAMARWA – YOGYAKARTADirektur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Anggito Abimanyu mengatakan haji adalah madrasah terbaik untuk mencari Allah.

”Saya ini mualaf dalam perhajian,” ujar Anggito dalam peluncuran buku yang ditulisnya berjudul Tangan Tak Terlihat, di Asrama Haji Yogyakarta, Sinduadi, Mlati Sleman, Jumat (31/1).

Peluncuran buku itu juga dihadiri Bupati Sleman Sri Purnomo, Rektor UGM Prof Pratikno, Rektor UII Prof Edy Suandi Hamid, Kakanwil Kemenag DIY Maskul Haji, dan pengurus KBIH se-DIY.

Anggito pun memaparkan alasannya memilih judul Tangan Tak Terlihatuntuk buku yang ditulisnya. Dalam ekonomi ada istilah invisible hand atau tangan tak terlihat yang menyebutkan pasar akan mencapai keseimbangan dengan sendirinya tanpa campur tangan.

”Meskipun kemudian dibantah karena adanya kegagalan pasar oleh para penganut paham Keynes,” urai Anggito. Namun, dalam haji, diyakini banyak tangan tak terlihat atau hidayah, bahkan kemustahilan dalam perjalanan ibadah haji.”

Menurut Anggito, buku itu menuturkan banyak kisah yang ditangkapnya selama menjalankan ibadah haji hingga menerima amanah menjadi dirjen PHU.

Pertemuan dengan berbagai sosok serta perjuangan dalam mengurus masalah haji dituangkannya dalam buku tersebut. Menjadi Dirjen PHU adalah hidayah dari Tangan tak Terlihat, katanya.

Ia pun menuturkan perjalanan yang mengantarkannya menempati jabatan tertinggi untuk urusan haji dan umrah se-Indonesia tersebut.

Proses itu ternyata diwarnai pula hal-hal yang unik, seperti ketika merujuk Menteri Agama Suryadharma Ali, Anggito berkali-kali keliru menyebut sang menteri sebagai menteri koperasi dan UKM.

”Maaf, buku ini ditulis tidak berstruktur, tapi ditulis mengalir begitu saja,” kata Anggito. Tak hanya pengalaman spiritual, Anggito juga bertutur tentang kisi-kisi penyelenggaraan haji, termasuk saat mendapat ujian pemotongan kuota haji sebesar 20 persen.

Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Pratikno juga mengomentari penunjukan Anggito menjadi dirjen PHU. Banyak orang yang memang terkejut saat beliau (Anggito-Red) menjadi Dirjen PHU, termasuk di kalangan ekonom, tuturnya.

Namun, kata Pratikno, berdasarkan pengalaman pribadi, masalah-masalah haji itu memang terkait pelayanan, pengelolaan anggaran, pendapatan, hingga soal kuota.

Semua itu harus dikelola lebih baik, lebih efektif, untuk pemberdayaan umat, kata Pratikno. Buku ini pun menjadi kejutan untuk Indonesia.

Rektor Universitas Islam Indonesia Prof Edy Suandi Hamid menilai buku Anggito ternyata tak lepas dari nuansa ekonomi meski ditulis dengan gaya enteng.

Judulnya saja masih meminjam terminologi yang sangat terkenal di kalangan ekonomi dalam buku The Wealth of Nation-nya Adam Smith, yaitu tangan tak terlihat (the invisible hand), kata Edy.

Edy juga menyoroti pesan-pesan moral, dakwah, kesan atas peristiwa, tuntunan haji, hingga berbagai kebijakan terkait haji yang dituangkan dalam buku tersebut. Salah satunya adalah permainan daftar tunggu haji yang konon kerap dipermainkan.

Namun, kata Edy, Anggito bisa menolak dengan halus permintaan tersebut. Bahkan, saya pun pernah ditolaknya pada 2012, kata Edy yang juga menyampaikan penghargaannya pada cara Anggito menuangkan catatan hariannya” sehingga menjadi buku.(republika)

PUSAT INFORMASI
GEMASHAFAMARWA

Rizki Wahyu
HP: +6283804791713
BB pin:25AA5CB3
Email: rizki.wahyu83@gmail.com
Web: http://www.gemashafamarwa.wordpress.com